
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat pada perdagangan Jumat (10/7). Berdasarkan daftar harga resmi Logam Mulia, nilai jual emas Antam naik Rp17.000 per gram menjadi Rp2.650.000, mengakhiri tren pelemahan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi kabar positif bagi pelaku pasar logam mulia di tengah meningkatnya minat terhadap aset safe haven.
Selain harga jual, nilai pembelian kembali (buyback) emas Antam juga mengalami kenaikan yang lebih besar. Harga buyback bertambah Rp22.000 menjadi Rp2.405.000 per gram. Perubahan harga tersebut berlaku di Butik Emas Logam Mulia Antam Pulo Gadung, Jakarta, sementara harga di gerai lain dapat berbeda sesuai kebijakan masing-masing lokasi penjualan.
Penguatan harga emas domestik sejalan dengan pergerakan emas global yang kembali mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Ketidakpastian ekonomi dunia, perkembangan konflik geopolitik, serta ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga logam mulia. Kondisi tersebut membuat emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diburu ketika volatilitas pasar keuangan meningkat.
Di sisi lain, transaksi emas batangan tetap mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku. Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 48 Tahun 2023, pembelian emas batangan oleh konsumen akhir dibebaskan dari Pajak Penghasilan (PPh). Namun, pengusaha emas tetap berkewajiban memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,25 persen dari nilai transaksi. Sementara itu, transaksi buyback dengan nilai di atas Rp10 juta masih dikenakan PPh sesuai ketentuan yang berlaku.
Kenaikan harga emas Antam memberikan sinyal positif bagi investor yang telah memiliki logam mulia sebagai bagian dari portofolio investasi. Meski demikian, pelaku pasar tetap diimbau mencermati dinamika ekonomi global, pergerakan nilai tukar rupiah, dan perkembangan harga emas dunia sebelum mengambil keputusan investasi. Analis menilai volatilitas harga emas masih berpotensi terjadi dalam jangka pendek seiring munculnya berbagai sentimen dari pasar internasional. Dengan prospek ketidakpastian global yang masih tinggi, emas diperkirakan tetap menjadi salah satu instrumen yang diminati sebagai aset pelindung nilai sekaligus diversifikasi investasi.
