Rupiah Menguat di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran

Rupiah Menguat di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran - WartaRakyat.net

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada awal perdagangan Kamis, meski pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Rupiah dibuka naik 50 poin atau 0,28 persen ke level Rp17.713 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.763 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan penguatan rupiah berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik setelah aksi serangan dan serangan balasan AS-Iran dinilai dapat memengaruhi sentimen investor terhadap kondisi pasar global.

Menurut Josua, perkembangan tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek negosiasi perdamaian. Ketidakpastian yang meningkat berpotensi mendorong pelaku pasar mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Situasi tersebut juga memberikan tekanan terhadap pasar komoditas, terutama minyak. Josua menyebut meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Laporan yang dikutip dari Sputnik menyebut militer Iran melakukan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Irak. Aksi tersebut disebut sebagai respons atas serangan AS sebelumnya di Iran.

Sementara itu, Anadolu melaporkan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan terhadap sasaran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa malam, 1 September 2026.

Setelah pengumuman tersebut, sejumlah laporan media Iran menyebut adanya ledakan di beberapa lokasi, termasuk Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, dan Konarak.

Perkembangan konflik tersebut menjadi perhatian pasar karena Timur Tengah merupakan kawasan penting bagi pasokan energi global. Gangguan terhadap aktivitas produksi maupun distribusi minyak dapat meningkatkan kekhawatiran pasar dan memengaruhi pergerakan harga komoditas.

Josua memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis akan bergerak dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.825 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik, sentimen investor global, serta respons pasar terhadap perubahan harga minyak.

Dengan demikian, meskipun rupiah mencatat penguatan pada pembukaan perdagangan, risiko eksternal masih menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Eskalasi geopolitik yang berlanjut dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar dalam waktu dekat.

Website |  + posts

Hana Maharani adalah penulis konten dan jurnalis digital yang fokus pada topik gaya hidup, pendidikan, hiburan, dan isu sosial. Dengan pendekatan penulisan yang kreatif dan informatif, ia berkomitmen menghadirkan artikel yang menarik, akurat, dan mudah dipahami oleh pembaca modern di Warta Rakyat.