Impor RI Naik 22,16% pada Mei 2026, Didorong Lonjakan Bahan Baku dan Barang Modal

Impor RI Naik 22,16% pada Mei 2026, Didorong Lonjakan Bahan Baku dan Barang Modal - WartaRakyat.net

Nilai impor Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan total impor mencapai US$24,81 miliar, meningkat 22,16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya pembelian bahan baku, barang penolong, dan barang modal yang dibutuhkan sektor industri nasional.

Peningkatan impor terjadi di tengah perlambatan kinerja ekspor, sehingga mencerminkan tingginya aktivitas produksi dalam negeri yang masih membutuhkan pasokan dari luar negeri. Menurut BPS, kenaikan impor bukan hanya berasal dari komoditas migas, tetapi juga sektor nonmigas yang mendominasi struktur perdagangan Indonesia. Pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan industri manufaktur terhadap bahan baku dan mesin produksi tetap tinggi meski kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.

Berdasarkan kelompok penggunaan barang, impor bahan baku dan barang penolong menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan nilai impor pada Mei. Di sisi lain, impor barang modal juga meningkat seiring investasi dan ekspansi sejumlah sektor usaha. Masuknya mesin, peralatan produksi, serta berbagai komponen industri dinilai menjadi sinyal bahwa pelaku usaha masih melakukan pengembangan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Sementara itu, impor barang konsumsi turut mengalami kenaikan, meski porsinya masih lebih kecil dibandingkan dua kelompok lainnya. Dominasi bahan baku dan barang modal menunjukkan bahwa lonjakan impor lebih banyak dipengaruhi kebutuhan sektor produktif dibandingkan konsumsi rumah tangga. Kondisi tersebut dinilai lebih positif bagi perekonomian karena dapat mendukung aktivitas manufaktur, investasi, serta penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Secara terpisah, BPS juga mencatat impor migas maupun nonmigas sama-sama meningkat dibandingkan Mei tahun lalu. Kenaikan impor migas dipengaruhi kebutuhan energi nasional, sedangkan impor nonmigas ditopang oleh mesin, peralatan elektronik, bahan kimia, serta berbagai bahan baku industri lainnya. Struktur tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas sektor industri masih menjadi penggerak utama permintaan barang dari luar negeri.

Meski impor tumbuh kuat, pemerintah menilai peningkatan tersebut perlu dilihat bersama perkembangan ekspor dan neraca perdagangan secara keseluruhan. Selama impor didominasi barang produktif yang mendukung investasi dan proses produksi, kenaikannya dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah. Ke depan, pemerintah akan terus memantau dinamika perdagangan global serta permintaan industri agar keseimbangan antara ekspor dan impor tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

+ posts