Konflik Timur Tengah Dorong Yield SBN RI Naik ke 7,14 Persen

Konflik Timur Tengah Dorong Yield SBN RI Naik ke 7,14 Persen - WartaRakyat.net

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberi tekanan terhadap pasar keuangan global dan turut memengaruhi pasar obligasi Indonesia. Kondisi tersebut mendorong imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,14 persen pada akhir triwulan II 2026.

Kenaikan yield sebesar 31 basis poin (bps) dibandingkan kuartal sebelumnya dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik kawasan Timur Tengah terhadap inflasi global, terutama setelah harga minyak dunia mengalami kenaikan. Situasi itu membuat pelaku pasar cenderung mengurangi aset berisiko (risk-off), termasuk di pasar obligasi negara berkembang.

Meski menghadapi tekanan eksternal, Purbaya menegaskan pasar SBN Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung.

Menurutnya, tren kenaikan imbal hasil obligasi tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara berkembang juga mengalami lonjakan yield sejak awal tahun. Turki mencatat kenaikan tertinggi sebesar 524 bps, disusul Filipina 148 bps, Brasil 106 bps, Korea Selatan 92 bps, Polandia 59 bps, dan Afrika Selatan 55 bps.

Di sisi lain, minat investor asing terhadap SBN Indonesia masih terjaga. Sepanjang triwulan II 2026, investor nonresiden membukukan net buy sebesar Rp32,09 triliun, sementara secara kumulatif sejak awal tahun tercatat Rp6,99 triliun.

Data hingga 30 Juli 2026 menunjukkan investor asing kembali mencatat pembelian bersih sebesar Rp6,36 triliun sepanjang bulan berjalan dan Rp13,35 triliun secara year-to-date. Pada periode yang sama, yield SBN tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,29 persen, atau naik 15 bps dibandingkan bulan sebelumnya dan 122 bps sejak awal tahun.

Purbaya menjelaskan dinamika tersebut masih dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah gencatan senjata serta pergerakan harga minyak mentah dunia yang masih fluktuatif.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah tetap menjaga pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara hati-hati.

Hingga akhir triwulan II 2026, realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp452 triliun, meningkat 59,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut didukung strategi pembiayaan utang yang dilakukan secara prudent dengan tetap memperhatikan kondisi kas pemerintah dan stabilitas pasar keuangan.

Sementara itu, pendapatan negara tercatat mencapai Rp1.459,4 triliun, tumbuh 21,4 persen secara tahunan. Di sisi pengeluaran, belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun, naik 17,8 persen, dengan belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.298,6 triliun atau meningkat 29,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah menilai kombinasi pengelolaan fiskal yang disiplin dan stabilitas pasar keuangan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah gejolak ekonomi global.

+ posts