Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia pernah menjadi salah satu produsen minyak terbesar di dunia dengan tingkat produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini. Menurutnya, masa kejayaan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia masih memiliki potensi untuk kembali meningkatkan produksi minyak nasional melalui berbagai strategi eksplorasi dan optimalisasi lapangan migas.
Bahlil menjelaskan bahwa pada era 1970-an hingga 1990-an, produksi minyak nasional atau lifting pernah menembus lebih dari 1 juta barel per hari. Saat itu Indonesia bahkan menjadi anggota penting Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan menjadikan sektor migas sebagai salah satu penopang utama penerimaan negara. Namun seiring menurunnya produksi dari lapangan-lapangan tua serta terbatasnya penemuan cadangan baru, lifting minyak terus mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir.
Saat ini pemerintah menargetkan peningkatan lifting minyak dan gas bumi secara bertahap. Bahlil menyebut pemerintah menyiapkan berbagai langkah untuk mengoptimalkan produksi, mulai dari percepatan eksplorasi wilayah kerja baru, penerapan teknologi peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery), hingga mempercepat proses perizinan bagi kontraktor migas. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah.
Selain meningkatkan produksi dari lapangan yang telah beroperasi, pemerintah juga mendorong percepatan pengembangan proyek-proyek migas strategis yang diperkirakan mulai berkontribusi dalam beberapa tahun mendatang. Menurut Bahlil, kolaborasi antara pemerintah, SKK Migas, dan pelaku industri menjadi faktor penting agar target peningkatan lifting dapat tercapai sesuai rencana.
Bahlil menilai peningkatan produksi migas memiliki dampak langsung terhadap perekonomian nasional. Selain memperkuat penerimaan negara, kenaikan lifting juga dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan akibat tingginya impor minyak. Pemerintah berharap berbagai kebijakan yang sedang dijalankan mampu mengembalikan tren positif sektor migas setelah selama bertahun-tahun mengalami penurunan produksi.
Meski optimistis, Bahlil mengakui tantangan di sektor hulu migas masih cukup besar. Banyak lapangan minyak nasional telah memasuki fase penurunan alami sehingga dibutuhkan investasi yang besar untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksinya. Karena itu, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif agar menarik minat investor global mengembangkan proyek migas di Indonesia.
Pemerintah berharap target peningkatan lifting migas dapat menjadi pijakan menuju kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang masih tersedia serta mempercepat pengembangan proyek baru, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang.
